-->

About| Satu Juta Backlink| Tukeran Link Posts Subscribe to This BlogComments

« »
  • Manfaat Jus Tomat untuk Kesehatan Tulang

    Menurut penelitian yang diterbitkan oleh journal osteoporosis internasional. Tomat dan jus tomat mempunyai kandungan lycopen yang tinggi. Lycopen adalah senyawa kimia yang masuk dalam keluarga karotenoid dari fitonutrien yang telah diakui manfaatnya untuk kesehatan.

  • Menghilangkan Lubang Bekas Jerawat

    Kulit halus tanpa lubang bekas jerawat adalah dambaan setiap orang. Untuk mendapatkannya banyak yang rela merogoh kocek lebih dalam dan waktu yang tidak sebentar untuk meraih mimpi memiliki wajah mulus. Antara lain dengan mengunakan metoda dermabrasi, mikrodermabrasi dan terapi laser.

  • Menghilangkan Selulit Secara Alami

    Sebagian besar orang beranggapan bahwa selulit berhubungan dengan obesitas. Namun sebenarnya tidak demikian, karena selulit juga sering terjadi pada wanita kurus kering. Factor hormonal seperti hormon estrogen menjadi salah satu penyebab terbentuknya selulit.

  • Perkembangan Sosial Anak di Awal Sekolah

    Keterampilan berkomunikasi sangat berperan dalam mempengaruhi perkembangan sosial anak. Kecerdasan mengutarakan pikiran dan perasaan melalui kata kata, serta menerima dan menanggapi pendapat orang lain, sangat besar manfaatnya dalam menentukan keberhasilan pergaulan seorang anak.

  • Penyebab Mimisan dan Cara Mengatasinya

    Mimisan atau dalam dunia kedokteran disebut juga sebagai epitaksis, yaitu pendarahan yang terjadi dari dalam hidung. Kasus mimisan seringkali terjadi pada anak-anak dari pada orang dewasa. Hal ini disebabkan karena pembuluh darah rongga hidung (ethmoidalis) pada anak-anak belum begitu kuat atau masih tipis dan rapuh.

Minggu, 15 Januari 2012

SEBENARNYA SAMA MUDAHNYA 6/19

Keadaan Iman itu dari dulu ya begitu itu. Keadaan iman yang bisa ditangkap dan dimengerti oleh Rasul-Rasul Allah, para sahabat Nabi dulu, serta wali-wali Allah disetiap zaman, akan persis sama dengan keadaan iman yang bisa kita tangkap saat ini. Keadaan Kafir juga begitu. Keadaan kafir yang bisa ditangkap dan dimengerti dengan tepat dan pas oleh Fir’aun, sama persis dengan yang bisa ditangkap dan dimengerti dengan akurat oleh Namrud, Abu Lahab, Abu Jahal, dan bahkan juga oleh kita-kita yang hidup saat ini. Tidak ada perbedaan sedikitpun.

Dan ternyata keadaan iman yang sebenarnya seperti yang dialami oleh Rasulullah ini tidak bisa dipaksa-paksakan. Kita hanya dan hanya bisa menerima KEADAAN IMAN itu DITURUNKAN oleh Allah sendiri kedalam dada kita. Keadaan Iman itu hanya bisa kita baca dengan DADA (SUDUR) kita. Karena memang alat penerimanya bukanlah panca indra kita yang bermuara pada olah otak kita semata. Alat penerima keadaan iman itu adalah berupa DADA yang lembut, lunak dan hidup. Bukan dada yang keras membatu, mati dan gelap.

Boleh jadi secara lahiriah kita bisa memaksa-maksa orang untuk beriman kepada Allah, dan dengan paksaan itu orang tersebut bisa pula melakukan setiap amalan yang diperintahkan oleh Allah dengan semangat yang tinggi. Akan tetapi kebenaran keadaan iman kita yang seperti ini dibantah sendiri oleh Allah didalam Al Qur’an dengan menyamakan keadaan iman orang tersebut sama dengan keadaan iman seorang badwi dizaman Rasulullah dulu. Bahwa kita sebenarnya belum beriman, tapi baru hanya sekedar patuh saja. Karena keadaan iman itu hanya bisa menyentuh hati kita.

Namun begitu, saat dada kita diberi cahaya oleh Allah, maka dada kita yang tadinya keras membatu dan gelap gulita akan berubah seketika, ya seketika…!. Dada kita berubah menjadi dada yang lembut, lunak, dan hidup. Dada orang beriman. Dada yang dilunakkan, dilembutkan, dihidupkan, dan disucikan sendiri oleh Allah dengan cara Dia menyinari dada kita dengan sinar-Nya.

Kenapa harus ada aktifitas Allah untuk mengubah keadaan dada kita ini?. Karena memang ada seribu satu cara-cara artificial (buatan) lainnya yang SEAKAN-AKAN dapat melunakkan, melembutkan, dan menghidupkan dada kita ini. Misalnya kita seakan-akan merasa dada kita menjadi lembut dengan cara mendengarkan irama musik yang lembut dan mendayu-dayu, atau dengan mendengarkan gelombang suara dengan frekuensi tertentu, atau bisa juga dengan mengingat-ingat penderitaan orang lain, atau dengan cara memaksa-maksakan diri untuk menangis dan meratap. Jadi proses melunaknya hati kita itu tidak lebih dari hasil aktifitas olah pikir dan olah emosi kita saja. Bahkan bentuk dzikir-dzikir tertentu yang sering dilantunkan oleh umat islam, juga lebih mengarah kepada bentuk artificial seperti ini.

Dengan cara-cara artificial ini, untuk sejenak memang terasa dada kita seperti berubah menjadi lebih lembut dari biasanya. Kita bisa lebih mudah untuk menangis, kita lebih mudah tersentuh, kita lebih mudah terharu dari biasanya. Kitapun merasa lebih mudah untuk berbuat baik kepada orang lain. Kita seperti punya rasa sosial yang tinggi untuk membantu sesama. Semangat kita untuk bekerjapun jadi begitu membara. Ini sudah bagus sebenarnya. Namun sayang, keadaan itu hanya bisa bertahan untuk sementara waktu saja. Tidak berapa lama kemudian, suasana dada yang lembut tadi berubah kembali menjadi keras. Tanpa kita melakukan kembali proses olah pikir dan olah emosi seperti diatas, kita merasa tidak akan bisa mendapatkan kembali suasana hati kita yang lembut seperti tadinya.

Jadilah kita menjadi orang yang terikat kuat dengan semua alat bantu olah pikir dan olah emosi itu tadi dalam mengolah keadaan dada kita. Tanpa alat itu rasanya kita tidak akan bisa membuat suasana dada kita menjadi lembut, lunak dan hidup. Ini kan bentuk perantara atau avatar juga namanya. Cuma saja avatarnya adalah benda-benda dan suara-suara.

Celakanya lagi, otak kita ini tidak pernah bisa menerima keadaan yang sama untuk kedua kalinya. Otak kita diciptakan Allah untuk bereaksi lebih sedikit dan lebih sedikit lagi saat kita melakukan hal sama secara berulangkali. Suasana pertama yang kita rasakan adalah munculnya Rasa BOSAN kita terhadap keadaan yang kita alami atau lakukan itu. Kita seperti merasa iman kita menjadi TURUN. Rasanya menjadi GARING. Tanda-tandanya sederhana saja, yaitu kita menjadi malas beribadah dengan khusyu kepada Allah. Walaupun ibadah itu masih kita lakukan, namun tidak ada KESUKACITAAN didalamnya. Kita beraktifitas ditengah-tengah KEPEDIHAN yang mendalam tanpa kita mampu untuk menyadarinya.

Kadang-kadang untuk menaikan rasa iman kita kembali, kita membutuhkan usaha yang lebih keras dari biasanya. Atau bisa pula rasa iman kita itu baru bisa bertambah kembali saat Allah menimpakan sebuah beban yang berat dipundak kita. Artinya saat itu kita dipaksa beriman oleh Allah dengan cara yang menyakitkan sekali. Setelah itu barulah kita merasa beriman kembali kepada Allah untuk kemudian melemah lagi. Kita merasa iman kita turun-naik begitu cepatnya. Iman kita seperti selalu berubah-ubah setiap saat. Tergantung mood kita katanya.

Sayangnya kita salah persepsi memaknai hadist Rasulullah yang menyatakan bahwa iman kita ini bisa bertambah dan berkurang. Hadist itu begitu seringnya diberitahu oleh para da’i dan khatib kepada kita sehingga kitapun masih bisa tersenyum sumringah saat mana dada kita begitu garingnya ketika kita melakukan aktifitas keseharian kita. Dalam beraktifitas, kita seperti berenang didalam lautan yang isinya hanyalah KEPEDIHAN belaka, dan anehnya kita masih bisa tersenyum menjalaninya. Kita dengan bangga mengatakan bahwa iman kita saat itu sedang TURUN. Kita menyangka bahwa keadaan kita yang seperti itu dibenarkan oleh Rasulullah. Iman kita sedang turun. Dan kita tetap berlaku biasa-biasa saja.

Bersambung
Deka
Read More...

SEBENARNYA SAMA MUDAHNYA 5/19

Perbedaan antara keadaan Iman dan keadaan Kafir itu nyaris sama dengan perbedaan antara keadaan saat kita hidup didaratan yang penuh dengan udara segar dengan keadaan saat kita menyelam tanpa bantuan alat apa-apa didalam air. Saat kita berada didaratan, kita bisa dengan bebas dan nyaman menghirup nafas, hidup, berjalan, dan juga berkarya dengan sangat mudah dan leluasa. Akan tetapi saat kita berada didalam air tanpa bantuan alat apa-apa, kita bisa bertahan hidup dan berkarya hanya dalam hitungan detik atau menit saja. Dalam sejekap dua kejap kemudian kita akan megap-megap. Kita akan tersiksa…

Kalau batas antara udara dan air masih bisa kita lihat. Namun sayangnya antara keadaa IMAN dan keadaan KAFIR itu keduanya hanya dibatasi oleh selapis LABIRIN yang sangat tipis dan tidak kelihatan oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, dan tidak terwakili oleh kata dan aksara. Dan memang disinilah umumnya letak kekeliruan kita umat islam ini ketika kita ingin memahami tentang IMAN dan KAFIR ini. Yaitu kita ingin memahaminya melalui olah pikir, olah intelektual, olah mata, dan olah telinga. Artinya disini kita salah dalam memakai alat untuk mengolahnya, sehingga hasilnya juga tidak maksimal dan bahkan sering salah.

Padahal Al Qur’an paling tidak di lima ayat berikut ini sudah menyatakannya dengan sangat terang benderang:
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (SADRAHU, SUDUR, DADA) untuk (menerima) agama Islam lalu ia (DADA ITU) mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az Zumar 22).

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya. (Az Zumar 23).

Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk patuh (aslamna)”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al Hujuraat 56).

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (Al Fath 4).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (al Anfaal 2)”

Muatan kelima ayat ini sebenarnya sangat sederhana sekali. Bahwa kita hanya tinggal bersedia menghadap kepada Allah dengan tepat dan lurus (hanif), lalu Allah sendiri yang akan membuka dan menyinari SUDUR (dada) saya sehingga dada kita menjadi lembut, lunak, dan cair. Dada yang seperti inilah yang akan mampu menangkap, dan menerima turunnya petunjuk dari Allah. Yaitu untuk menerima KEADAAN atau SUASANA yang sebenarnya dari perkataan-perkataan Allah, ilham-ilham Allah, yang dari dulu sampai sekarang dan masa datang yang tetap akan sama dan tidak berubah.

Bersambung

Deka
Read More...

SEBENARNYA SAMA MUDAHNYA 4/19

Padahal sebenarnya, kalaupun ada Sang Guru itu, peran beliau tidak lebih hanyalah sekedar sebagai penunjuk arah kesadaran yang PAS saja bagi kita pada SAAT AWAL perjalanan kita agar kita bisa keluar dari wilayah ketidaksadaran yang telah kita tempati sekian lamanya. Beliau hanyalah menunjukkan agar kita bisa duduk “di rumah” kita sendiri dengan sadar, sekali lagi dengan sadar…

Dulu, saat saya punya masalah, saya juga pernah datang kepada pak Haji Slamet Utomo dan utdz Abu Sangkan untuk minta dido’akan agar masalah saya teratasi. Sambil tersenyum arif Beliau berkata: “Allahmu manaaa..?. Suatu saat saya gelisah dan khawatir tentang sesuatu hal, lalu saya datang kepada Beliau untuk minta dido’akan, Beliau kembali hanya berkata lembut dan mengena sekali: “ada masalah apa engkau dengan Allah?, sehingga Allah tidak berkenan kepadamu..”. Sungguh dua kalimat inilah yang paling dalam menancap kedalam pikiran dan perasaan saya sampai saat ini. Kalimat tauhid banget…

Dalam pertemuan demi pertemuan saya selanjutnya dengan orang tua saya yang sangat saya hormati Pak Haji Slamet Utomo dan Utdz Abu Sangkan seringkali Beliau hanya mengajak saya untuk duduk didalam benteng Allah “laa ilaha illalhah…, DERR…, DERR…, DERR!”, lalu beliau berpesan kepada saya:

“Nah duduklah kamu disini…, didalam benteng Allah, dirumahmu…, diamlah dengan sabar (patien) seperti sabarnya seorang pasien dirumah sakit menunggu dokter yang akan memeriksa dan mendiagnosa penyakitnya…. Kamu harus begitu pula. Sabar…, patien. Duduklah dengan santun, merendah, dan DIAM. Karena saat itu kamu memang sedang berduaan dengan Allah. Saat itu kamu sedang menunggu-nunggu suatu petunjuk atau pengajaran dari-Nya. Lalu kemudian, saat pengajaran Allah itu “TURUN”, DERR…, DERR…, lalu kamu bacalah…, iqraa lah…, apa-apa yang diajarkan Allah kepadamu itu, sampai kamu paham. Sampai paham…

Ulang-ulang lah kamu duduk dirumahmu sendiri. Sebab kalau tidak diulang-ulang, nanti kamu akan lupa dan bingung untuk masuk kembali kerumahmu sendiri. Kamu jangan lupa lagi rumahmu ini…
Aku juga punya rumah sendiri. Aku juga akan duduk dirumahku sendiri. Syukur-syukur kamu bisa mampir dan singgah kerumahku, sehingga kamu bisa menjadi temanku, teman seperjalananku”.

Sederhana sekali yang Beliau ajarkan. Beliau sampaikan dulu ilmunya melalui sebuah wejangan singkat dan tidak rumit, tentu saja ada dasarnya didalam Al Qur’an dan Al Hadist. Lalu Beliau “mengajak” saya berlatih memasuki suasana atau keadaan dari ilmu tersebut… DERR. Kemudian saya duduk bersama Beliau beberapa saat, bisa 10 menit atau bisa pula 1 jam atau lebih, diwilayah realitas ilmu tersebut. Jadi ada ilmunya dan ada pula realitasnya. Ilmu itu ternyata mewakili sebuah realitas. Saya jadi yakin bahwa Al Qur’an itu adalah dari Allah, dan Muhammad SAW adalah memang Rasulullah.

Alhasil saya bisa pulang kerumah dengan lengkap dan utuh, walau kadang-kadang saya ada TELMInya juga. Sebab adakalanya ilmu dan wejangannya sudah saya dapat, tapi realitas keadaan dan suasananya baru saya pahami beberapa jam kemudian, atau beberapa hari kemudian, atau bisa pula beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian. Tapi kegagalan itu tidak menjadi masalah bagi saya, karena memang bukan Beliau kok yang berhak untuk mengajari saya. Hanya Allah lah yang berhak mengajari dan menuntun saya untuk memahami apa-apa yang tidak saya ketahui.

Dengan Beliau, Al Qur’an Al Hadist itu tidak ditafsirkan atau tidak dibahas panjang lebar. Ilmu itu tidak dibahas menurut tafsiran imam ini, imam itu, ulama ini ulama itu. Tidak dibahas sanadnya, tidak dibahas fiqihnya, tidak mutar-mutar nggak karuan dalam permainan kata dan kalimat. Sebab Al Qur’an itu memang hanya memuat hal-hal yang sederhana saja. Al Qur’an adalah BENIH ILMU. Bahwa apapun ayatnya, kita akan selalu dibawa untuk MEYAKINI atau MENGIMANI ALLAH. Kalau tidak beriman kita akan hidup sengsara didalam alam kepedihan, atau sebaliknya kalau beriman kita akan hidup didalam alam kesukacitaan dan berkelimpahan.

Selanjutnya kita tinggal melaksanakan saja satu AMAL ke AMAL berikutnya sebagai tanda bahwa kita memang sudah beriman kepada Allah. Untuk mengetahui amal apa yang baik dan benar, ya… kita lihat saja amal seperti apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat Beliau dulu. Kita lihat beberapa Al Hadist saja dulu. Kita nggak perlu harus hafal ribuan hadist dulu untuk beramal itu. Sebab MUATAN Al Hadist itu juga sangat sederhana sekali kok. Al hadist itu memberi tahu kita bagaimana amal atau perbuatan Rasulullah untuk memupuk keimanan Beliau kepada Allah; bagaimana Beliau berbuat baik kepada sesama manusia sehingga orang-orang percaya bahwa Beliau memang adalah Rasulullah; bagaimana Beliau memperlakukan alam dengan santun; dan bagaimana cara-cara Beliau menyelesaikan berbagai problematika hidup dizaman Beliau dulu. Al Hadist itu sungguh hanya memuat hal-hal yang manusiawi sekali. Nah…, kita tingal lakukan saja hal-hal yang manusiawi itu SATU PERSATU sesuai dengan KEMAMPUAN kita dan ZAMAN kita sekarang.

Kalau kebanyakan kita kan nggak begitu, walau kita seringkali membaca Al Qur’an namun kita tidak sampai TERBAWA masuk ke wilayah IMAN dan YAKIN kepada ALLAH. Kita juga seringkali membahas Al Hadist sampai berjam-jam, namun kita nyaris tidak melakukan apa-apa untuk memperkaya peradaban dizaman kita. Kita ada dan hidup dizaman sekarang, namun kita seperti tiada. Kita seperti entah sedang berada dimana…

Demikianlah…, berbilang hari dan tahun berlalu. Satu persatu KEADAAN demi KEADAAN, SUASANA demi SUASANA yang mewakili AYAT PERAYAT didalam Al QUR’AN, seperti menyata. Misalnya, untuk sepotong ayat Al Qur’an tentang kata IMAN kepada ALLAH saja, yang dulunya saya sangka akan sangat begitu sulit untuk saya dapatkan dan pahami maknanya, ternyata memahami dan memaknai kata IMAN itu sama mudahnya dengan memahami dan memaknai kata KAFIR atau TIDAK IMAN.

Ya…, ternyata untuk BERIMAN dan TIDAK BERIMAN (KAFIR) kepada Allah itu sama mudahnya. Karena masing-masing kata itu punya KEADAANNYA sendiri-sendiri. IMAN punya KEADAANNYA sendiri dan KAFIR juga punya KEADAANNYA sendiri. Jadi untuk beriman atau tidak itu hanya dan hanya ada dua keadaan saja, yaitu KEADAAN IMAN dan KEADAAN KAFIR. Namun dua keadaan itu tidak akan pernah bisa bersatu sepanjang masa. Kitapun ternyata tidak bisa pula hidup dikedua keadaan itu sekaligus. Kita hanya bisa hidup dalam suasana kafir saja atau dalam suasana beriman saja pada waktu tertentu. Hanya satu saja pilihan kita dari dua keadaan itu pada suatu saat tertentu. Keadaan Beriman saja ATAU Keadaan Kafir saja.

Atau kalau didalam otak kita kata “kafir” itu sangat menakutkan dan sadis amat, kata itu bisa kita ganti dengan kata “tidak beriman”, atau “ragu-ragu”, atau “was-was”. Walaupun kata-kata itu berbeda, tapi keadaannya tetap SAMA, yaitu TIDAK YAKIN. Jadi tidak ada itu yang namanya separo iman dan separonya lagi was-was atau ragu-ragu. Kita tinggal nyemplung saja kedalam suasana IMAN atau masuk kedalam keadaan KAFIR (atau TIDAK YAKIN).

DERR…, tiba-tiba saja kita sudah nyemplung berada dalam keadaan IMAN kepada Allah yang sangat pekat dan penuh dengan rasa SUKACITA dan BERKELIMPHAN. Atau DESS…, tiba-tiba saja sudah tercebur kedalam keadaan KAFIR, TIDAK IMAN, RAGU-RAGU, WAS-WAS kepada Allah yang akibatnya adalah hidup dan kehidupan kita akan dipenuhi oleh rasa KEPEDIHAN dan KESEMPITAN.

Bersambung

Deka
Read More...

SEBENARNYA SAMA MUDAHNYA 3/19

Dengan bekal ilmu “bingung dan merasa tidak bisa” seperti itulah yang menyebabkan munculnya dengan subur orang-orang atau kelompok-kelompok, yang kita anggap bisa membuat kita beriman kepada Allah. Tanpa orang-orang atau kelompok-kelompok tersebut, kita pikir, kita tidak akan mungkin atau tidak akan pernah bisa beriman kepada Allah. Makanya dengan semangat 45 kitapun mengikuti pengajian demi pengajian, pelatihan demi pelatihan, dzikir khusus demi dzikir khusus yang dibimbing oleh orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu tersebut.

Apalagi pada pelatihan pertama bonusnya ada, yaitu ada perubahan yang sangat berarti yang kita dapatkan setelah kita mengikuti cara-cara tertentu dari mereka itu. Misalnya bagi seseorang yang sakit bisa merasa sembuh seketika setelah dia dido’akan atau meminum air yang telah dido’akan oleh seseorang. Dengan itu kita seakan-akan bisa merasakan sebuah metamorphosis spiritual karena ada bantuan dan peran dari mereka yang kita anggap bisa membantu kita.

Akan tetapi kesalahan umum yang kita lakukan kemudian adalah bahwa untuk besok-besoknya, saat kita sendirian dirumah, kita tidak bisa lagi mengulangi capaian kita seperti saat kita dido’akan atau dibantu oleh orang lain sebelumnya. Ada sebuah ketidakpercayaan kita terhadap diri kita sendiri. Bahwa tanpa peran orang tersebut kita tidak akan pernah bisa mengulangi keberhasilan kita tempo hari.

Akhirnya, seiring dengan berjalannya waktu, dengan sangat cepat orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu tersebut sudah berada dipuncak menara gading sebuah kepercayaan. Tiba-tiba saja penghormatan dan pengkultusan kita terhadap mereka jadi begitu tingginya, sehingga fungsi merekapun kemudian berubah menjadi fungsi AVATAR atau PERANTARA. Mereka kita anggap sebagai seorang “MAHA GURU”, MURSYID. Seorang yang punya peran yang sangat besar atas keberhasilan perkembangan rohani kita untuk masa-masa mendatang. Seakan-akan ada mereka diantara kita dengan Allah. Tanpa peran serta mereka, seakan-akan Allah akan sangat sulit kita jangkau.

Tanda-tanda utama bahwa kita telah mengkultuskan seseorang menjadi mursyid atau avatar kita adalah saat kita punya masalah, seketika itu juga kita cenderung untuk minta tolong, atau minta didoakan kembali oleh Sang Guru tersebut agar masalah kita itu segera lenyap dari hadapan kita. Kita tidak percaya diri untuk langsung menghadap dan berdo’a kepada Allah. Kita lalu datang kehadapan Sang Guru dalam keadaan rohani yang sempit dan mengecil. Seakan-akan keadaan rohani jauh berada dibawah rohani Sang Guru. Sehingga apapun kata Sang Guru akan kita lakukan dengan membabi buta. Secara psikologis, keadaan rohani yang seperti ini akan sangat mudah untuk dipengaruhi. Persis seperti orang yang siap untuk dihipnotis.

Tambahan pula, karena hasilnya juga ada, dimana keadaan kita berubah, kita menjadi sedikit lebih tenang, masalah kita seakan-akan sudah teratasi, dan sebagainya, maka kepercayaan kita akan menjadi semakin kuat bahwa hanya dan hanya atas adanya peran Sang Guru yang sangat besarlah yang menyebabkan kita baru bisa beriman kepada Allah. Dan kepercayaan seperti itu terjadi disetiap saat, disetiap waktu. Tanpa kita mengingat dan mengikatkan kesadaran kita kepada Sang Guru sebelum kita melakukan aktifitas agama, rasa-rasanya kita tidak akan pernah percaya diri untuk bisa beriman kepada Allah…

Bersambung....

By : Yusdeka Putra
Read More...

SEBENARNYA SAMA MUDAHNYA 2/19

Kalau bagi kita saat ini sungguh sangat berbeda. Kita lebih banyak memberi makan otak kita dengan berbagai bacaan dan kajian, tapi minus keadaan atau suasananya. Kita tahu dan hafal banyak istilah agama, tapi saat melaksanakan aturan agama itu dada kita garing. Semakin otak ini kita isi dengan berbagai kajian dan tafsiran terhadap Al Qur’an dan Al Hadist, maka semakin agama ini terasa berat. Kita kadangkala tidak tahu lagi mana aturan agama ini yang harus kita jalankan terlebih dahulu dan mana yang kemudian.

Misalnya saja, pengetahuan agama yang paling umum dan paling dasar yang kita dapatkan adalah bahwa untuk bisa beriman kepada Allah dengan mudah, terlebih dahulu kita haruslah berhati-hati dengan makanan, minuman dan pakaian yang kita lekatkan ketubuh kita. Karena makanan dan minuman serta pakaian itu akan mempengaruhi segumpal daging didalam tubuh kita yang disebut sebagai HATI. Terutama, kalau makanan dan minuman kita adalah barang yang baik dan halal, maka dikatakan hati kita juga akan menjadi bersih dan mudah untuk beriman kepada Allah. Akan tetapi kalau makan dan minuman kita dari barang yang haram dan yang tidak baik, maka kita diminta untuk percaya bahwa hati kita pastilah akan hitam, gelap, dan tidak mudah untuk beriman kepada Allah.

Sementara dinegara kita ini, hampir tidak ada wilayah atau area yang benar-benar bersih dari hal-hal yang diharamkan seperti itu. Misalnya semua uang yang beredar saat ini nyaris berasal dari bank convensional, baik dari dalam maupun luar negeri, yang konon katanya itu adalah peredaran uang yang tidak syar’i. Dan kita membeli makanan, minuman dari hasil peredaran uang yang dianggap sebagai non syar’i itu. Akhirnya kita menjadi ragu-ragu kembali dengan kualitas keimanan kita kepada Allah.

Dari hal makanan, minuman, dan hati ini kemudian lahirlah berbagai ilmu tentang tata-cara agar kita bisa menyucikan harta benda dan hati kita. Ada fatwa ini dan fatwa itu dari otoritas ulama tentang bagaimana ekonomi ala islami dan bagaimana ekonomi ala kafirin. Ditambah dengan ancaman neraka dan iming-iming syurga, akhirnya kita lebih sibuk mengingat, membicarakan, dan berpolemik dengan istilah-istilah yang dibumbui dengan kata syariah versus non syariah. Kita dipaksa untuk saling bercerita dan berdebat tentang ekonomi syariah versus ekonomi konvensional. Gegap gempita sekali…

Disisi lain, agar kita bisa membersihkan hati kita, maka tubuh dan hati tersebut kemudian dibelah-belah orang pula menjadi bagian-bagian kecil dengan nama-nama yang keren, yaitu lathaif. Kemudian lathaif-lathaif itu harus pula kita sucikan dengan dzikir-dzikir tertentu (lihat buku Membuka Ruang Spiritual, by Deka). Maka sibuk pulalah kita bersih-bersih hati itu, sehingga kadangkala iman kepada Allah yang kita harapkan malah tidak muncul. Kita jadi sibuk sendiri dengan segala dzikir dan wasilah yang kita lakukan disetiap saat itu.
Untuk melakukan sebuah perbuatan atau aktifitas apapun juga, terutama yang berkaitan dengan agama, pertanyaan standar yang ditanamkan kedalam otak kita oleh para ulama adalah: Ada contohnya nggak dari Nabi?. Ada hadistnya nggak?. Hadistnya shahih nggak?. Dan setelah itu pastilah muncul argumen-argumen yang kadangkala dari dulu, dari zaman ke zaman, rasanya hanya itu ke itu saja.

Baru dari topik sederhana tentang bagaimana agar kita bisa beriman kepada Allah, ternyata telah muncul dengan menggurita topik-topik lain yang sepertinya tidak habis-habisnya untuk kita perbincangkan. Pantas saja akhirnya kita jadi bingung sendiri. Boro-boro iman kita kepada Allah bisa meningkat, malah sebaliknya kita terjerembab kepada ketidak harmonisan hubungan antar sesama muslim, maupun sesama manusia.

Bersambung

By : Yusdeka Putra
Read More...

SEBENARNYA SAMA MUDAHNYA 1/19

Sudah umum persepsi yang melekat diotak sebagian besar kita bahwa untuk beriman kepada Allah itu sungguh sangat sulit sekali. Begitu kita ingin berbicara tentang iman kepada Allah, maka yang muncul kemudian adalah berbagai teori, definisi, dan tata cara yang kadangkala membuat kita kesulitan untuk menjalankannya. Sehingga didalam benak kita sering muncul kata-kata tak terucapkan: “Oh…, betapa sulitnya iman itu. Ah…, nggak mungkin rasanya saya untuk beriman seperti itu. Aa…, iman itu rasanya seperti berada di puncak menara gading yang tak akan pernah tersentuh oleh orang-orang biasa seperti saya…, dan berbagai keluhan lainnya”.

Kalau dilihat dengan seksama, kadangkala antara berbagai teori, definisi dan tata cara untuk mendapatkan iman itu satu dengan yang lainnya susah untuk ditemukan benang merah yang saling menghubungkannya. Padahal yang sedang dibicarakan dan dipelajari itu adalah hal yang sama dan sangat sederhana sekali, yaitu tentang Iman Kepada Allah, misalnya. Dan dasar pijakan berfikirnya juga selalu didengung-dengungkan dari dua pokok yang sama, yaitu Al Qur’an dan Al Hadist. Akan tetapi begitu ilmu tentang Iman kepada Allah itu sampai kepada kita, yang kita dapatkan adalah ilmu olah pikir, ilmu olah gatuk-gatuk, ilmu olah katanya-katanya, ilmu olah hafalan… dan sebagainya, sehingga yang kita dapatkan sungguh membuat sebagian besar kita menjadi bingung… ngung…, ngung untuk memilih mana yang pas buat kita. Kita jadi saling rancu satu sama lainnya untuk satu hal yang sama, yaitu IMAN kepada Allah…

Keadaan seperti ini persis sama dengan saat kita diminta untuk memahami tentang batang sebuah pohon mangga, kita malah asyik masyuk membahas tentang cabang, ranting, daun, bahkan kuncup dari pohon mangga tersebut. Kita asyik membahas dan mengolah kata bahwa ada daun yang hijau, ada daun yang kuning, ada daun yang mengering, dan berbagai ada-ada lainnya. Akhirnya yang kita bahas, kita diskusikan, kita seminarkan, dan yang kita pahami hanyalah sebatas ilmu olah kata tentang daun. Sedangkan batang pohon mangga itu tetap menjadi sebuah misteri yang tak terkuakkan bagi kita. Karena memang kita tidak pernah membuka, menguliti, dan mengamati pohon mangga itu dari dekat. Kita tidak pernah mengeksplorasi pohon mangga ini bagain perbagian.

Kalau dalam membahas pohon mangga itu hanya sebatas memakai ilmu olah kata itu tadi, maka kita akan bertabrakan dengan ilmu olah-olah kata yang dimiliki oleh orang lain. Sebab setiap orang bisa memandang sebuah pohon mangga dari sisi yang berbeda sesuai dengan isi otak mereka pula. Dan itu akan ramai sekali….

Sementara Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sudah terlebih dahulu ketemu dan masuk kedalam keadaan Iman kepada Allah itu, lalu keluarlah ajakan Beliau: “wahai sahabatku, marilah masuk kedalam keadaan iman kepada Allah. Iman itu enak…, iman itu bahagia, iman itu nikmat…!. Wahai sahabatku, mari beriman kepada Allah…, singgahlah untuk beriman kepada Allah… Singgahlah untuk masuk kerumahku, rumah iman yang penuh dengan kesukacitaan”.

Demikianlah Beliau menyampaikan berbagai ajakan lainnya agar para sahabat Beliau masuk kedalam keadaan demi keadaan yang diterangkan Allah didalam Al Qur’an. Lalu masuklah semua sahabat Beliau kesana… DERR…, DERR…, sehingga saat itu tidak banyak aktifitas seperti yang getol kita lakukan saat ini, yaitu menafsirkan Al Qur’an dan mengupas Al Hadist. Saat itu tidak ada tafsir…, tafsir…, dan tafsir terhadap Al Qur’an dan Al Hadist. Tidak ada juga apa yang namanya kajian…, mengaji…, dan mengaji. Tidak ada itu semua.

Yang ada adalah begitu Beliau mendapatkan wahyu dari Allah, Beliau DUDUK dalam suasana wahyu itu, kemudian Beliau kabarkan wahyu beserta keadaannya itu kepada para sahabat Beliau. Kabar dari Beliau itulah yang kemudian dinamakan orang sebagai Al Hadist. Beliau-beliau hanya tinggal melakukan…, melakukan…, dan melakukan apa yang diperintahkan Al Qur’an sesuai dengan lingkungan yang ada saat itu. Jadi Al Hadist itu bukanlah sekedar perkataan dan perbuatan Beliau saja. Tapi Al Hadist itu adalah DUDUK Beliau dengan sangat sempurna pada sebuah KEADAAN yang diterangkan oleh Al Qur’an. Beliau hanya Just do it…, dan hasilnya adalah sebuah keniscayaan peradaban yang cemerlang ditengah-tengah kegelapan disaat itu…

Bersambung

By : Yusdeka Putra
Read More...

Senin, 12 September 2011

4 Manfaat Melatih Anak Tidur Sendiri

Mengajarkan anak tidur sendiri ternyata mempunyai banyak manfaat. Karena itu, psikolog Miftahul Jannah SPsi. MSi menyarankan orangtua agar melatih anak-anaknya tidur sendiri. Lalu apa sih manfaatnya?  

Otonomi Diri

Dengan mempunyai kamar sendiri, anak akan belajar mempunyai otonoomi diri sendiri. Ketika Anda melibatkan anak untuk memilih nuansa dan desain kamar, anak akan belajar bagaimana menggunakan hak untuk memilih bagi dirinya sendiri. Selain itu biarkan anak mengatur barang yang dimilikinya dikamarnya tersebut. Kegiatan ini dapat membawa anak agar tidak canggung ketika anak harus mulai terjun ke dunia sosial.  



Belajar Mandiri

Pembelajaran mandiri juga bisa dimunculkan ketika anak punya kamar sendiri. Biarkan anak mebereskan tempat tidurnya. Meja belajar dan kamarnya. Beri dia tanggungjawab. Jika kamarnya berantakan, anda bisa memberi contoh bagaimana merapikan tempat tidurnya baik dari anda sendiri maupun saudaranya. Dengan demikian anak akan belajar menanggung tanggungjawabnya.  

Self Concept

Dengan berani tidur sendiri anak akan merasa percaya diri. Karena itu diperlukan pujian ketika si kecil sudah berhasil berani tidur sendiri. Konsep diri anak akan terbentuk dengan baik karena anak mempunyai bekal percaya diri yang cukup. Dia juga akhirnya merasa dirinya berani sehingga akan berpengaruh dalam pergaulannya.  

Presentasi Diri Baik

Karena konsep dirinya baik, maka presentasi diri anak juga baik. Anak akan berani dan bisa mempresentasikan atau membawa dirinya dengan baik di pergaulan. Berani melakukan dan mengatakan apa yang menjadi keinginannya dan apa yang tidak diinginkan karena ia sudah terbiasa melakukannya di rumah. Anak akan belajar menjadi pribadi yang asertif.
Read More...

Sabtu, 10 September 2011

Deteksi Dini Kangker Otak

Kanker otak merupakan pertumbuhan sel yang tidak beraturan di otak dengan sifat ganas. Menurut prof. Dr dr abdul Hafid Bajamal SpBS, spesialis bedah syaraf dari rumah sakit Mitra Keluarga Surabaya, penyebab utama kanker otak belum diketahui secara pasti. Namun, penyebab lainnya adalah karena faktor genetik. Tetapi menurutnya harus ada faktor lain yang memicu faktor genetik hingga muncul kanker ini.

Artinya meskipun secara genetik memiliki keturunan mengidap kanker, namun jika tidak ada faktor pemicu, maka kanker tersebut tidak akan muncul. Salah satu pemicu munculnya kanker otak adalah daya tahan tubuh. Ketika kondisi tubuh kian melemah, maka peluang bagi bibit-bibit penyakit tersebut untuk muncul dan menyerang tubuh makin tinggi.

Masih menurut Hafid, menurunnya daya tahan tubuh dapat disebabkan oleh banyak hal. Mulai dari gaya hidup yang kurang sehat, sehingga sedikit demi sedikit menggerogoti vitalitas tubuh. Seperti pola makan yang tidak sehat, kurang olahraga, beban pikiran atau stres yang berlarut.  

Stadium Kanker Otak

Untuk kanker otak, menurut Hafid ada empat grade, 1 dan 2 belum bisa dikatakan kanker atau masih disebut tumor. Namun pada grade ke 3 dan ke 4 sudah masuk kategori kanker. Untuk grade 1 dan 2 masih besar kemungkinan bisa disembuhkan. Tetapi untuk grade 3 dan 4 penyembuhannya menjadi sangat sulit. Pada tahap yang disebut kanker ini, para medis menyebutnya masa survival, pertolongan yang diberikan bersifat untuk menekan penyebaran serta memperpanjang kesempatan untuk bertahan. Sedangkan untuk cure diakui oleh Hafid sangat sulit.  

Gejala Awal

Menurut hafid, sakit kepala yang menjadi indikasi adanya kanker otak adalah rasa sakit kepala yang terus menerus dengan disertai adanya keluhan lain. Misalnya pusing disertai muntah-muntah, pusing disertai kesemutan, atau gejala lainnya. Pada prinsipnya jika pusing tersebut disertai gejala lain yang terus menerus dan semakin lama semakin berat atau parah, sudah semestinya dicurigai adanya kanker otak. Selain itu, gejala awal kanker otak yang perlu diwaspadai adalah jika seseorang yang tidak memiliki riwayat kejang, tetapi tiba-tiba terjadi kejang, maka ini bisa menjadi indikasi awal adanya kanker otak tersebut.

Akibat adanya kanker otak, fungsi otak akan terganggu karena otak mengalami kerusakan. Misalnya jika kanker otak terjadi pada otak belakang yang memiliki fungsi penglihatan, maka bisa jadi penglihatannya terganggu. Pandangan jadi kabur, atau penglihatan hanya setengah atau bahkan bisa mengarah seperti tidak terlihat atau tidak jelas. Begitu jika terjadi pada bagian otak depan yang berfungsi sebagai memori atau emosi, bisa jadi memori seseorang akan terganggu demikian juga dengan emosinya.

Adapun jika kanker bisa diangkat, si pasien bisa jadi sembuh atau bagian yang ditempati bisa pulih, bahkan bisa mengalami kerusakan secara permanent. Semuanya tergantung pada letak, besar dan kecilnya tumor. Karena semakin cepat seseorang menyadari adanya kanker otak dan berobat, maka kesempatan untuk sembuh semakin besar.

Sedangkan menurut hafid, terapi medis dengan pengobatan alternativ hanya akan membuang waktu saja. Jangan sampai kanker ssudah mencapai grade 4 dan besar baru memeriksakan ke dokter.  

Wanita Lebih Rentan

Kanker otak ini biasanya lebih sering menyerang pria, namun pada wanita yang memiliki tipe tertentu, kejadian kanker otak lebih mendominasi. Yaitu pada tipe meningioma lebih banyak wanita usia lebih dari 40 tahun yang rentan terserang tumor. Agar dapat terhindar dari serangan tumor atau kanker otak, menurut Hafid, harus menjaga hidup sehat.langkah pertama jika diindikasi adanya kanker otak, akan dilakukan pemeriksaan fisik setelah diddiagnosa positif, maka dilanjutkan dengan CT Scan, bila diperlukan akan dilakukan pemeriksaan dengan Magnetik Resonance Imaging (MRI). Merupakan pemeriksaan yang lebih akurat dari pada CT Scan.

Sumber artikel : Tabloid Nurani
Sumber image : robertsreview.com
Read More...

 

Statistik & Tools

WooRank of infowanitakarir.blogspot.com

Followers

Buku Tamu


ShoutMix chat widget